Melampaui Majelis Ilmu: Sesi Ramah Tamah Pengajian Muslimat & Fatayat Desa Krasak Pererat Tali Persaudaraan

  • Jul 07, 2026
  • Hindun

KEBONAN, DESA KRASAK – Jika pengajian adalah waktu untuk menimba ilmu agama, maka sesi ramah tamah setelahnya adalah waktu untuk merajut kasih sayang antarwarga. Di Desa Krasak, khususnya dalam lingkup pengajian Muslimat dan Fatayat RW 11, sesi ini menjadi momen yang paling dinanti. Usai tausiyah selesai, suasana kaku di majelis langsung berubah menjadi cair dan ceria. Para jamaah tidak langsung bubar, melainkan duduk melingkar, berbagi cerita, tertawa bersama, dan menikmati hidangan sederhana yang disediakan tuan rumah atau hasil iuran kas pengajian.

Bagi banyak ibu-ibu, sesi ramah tamah ini berfungsi sebagai "terapi sosial". Di tengah kesibukan mengurus rumah tangga dan anak, mereka menemukan ruang aman untuk berkeluh kesah,  "Kadang masalah hidup itu berat kalau dipendam sendiri. Tapi setelah ngobrol sama teman-teman pengajian, rasanya jadi ringan. Kita sadar ternyata banyak yang punya masalah serupa, jadi kita nggak merasa sendirian," ungkap Ibu [Nama Jamaah], peserta setia pengajian.

Penguatan Kohesi Sosial Melalui Interaksi Informal

Sesi ini juga menjadi jembatan bagi warga baru atau pendatang untuk lebih cepat berbaur dengan masyarakat asli Desa Krasak. Tanpa sekat status sosial atau ekonomi, semua duduk setara di atas tikar atau kursi plastik, saling menyapa, dan membangun koneksi personal. Hal ini secara tidak langsung memperkuat modal sosial desa, di mana rasa saling percaya dan gotong royong tumbuh dari interaksi informal yang intensif ini.

Ketua TP PKK Desa Krasak, Ibu Yeni Purwanti, menilai sesi ramah tamah sebagai investasi sosial yang strategis. "Program pemerintah akan sulit berjalan jika warganya tidak saling kenal. Lewat obrolan santai pasca-pengajian inilah, informasi tentang program desa, kesehatan, atau keamanan sering kali tersampaikan lebih efektif daripada lewat selebaran resmi. Ini adalah kekuatan komunitas yang nyata," ujarnya.